Kamis, 16 April 2009

Rendahnya Kesadaran Berpolitik Setelah Kampanye Usai ??

Pesta demokrasi telah usai, masyarakat Indonesia memilih caleg – caleg favoritnya pada tanggal 09 april lalu,. Namun tidak sedikit pula yang memilih untuk menjadi Golput. Setelah masa – masa kampanye yang meriah, dipenuhi dengan umbul – umbul dan spanduk para caleg dan parpol, tiba saatnya juga untuk kita mengetahui siapa yang menjadi pilihan masyarakat. Hal ini merupakan ujian kesadaran berpolitik bagi para caleg dan parpol Indonesia. Dengan banyak nya biaya yang telah di keluarkan untuk kampanye, untuk memperkenalkan diri beserta visi dan misi kepada masyarakat, tampaknya para caleg yang gagal harus juga mempersiapkan diri untuk menghadapi kekalahan. Seperti contoh kasus di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sejumlah Rumah Sakit Jiwa menyediakan kamar – kamar dan perawatan bagi para caleg, parpol dan tim sukses yang depresi akibat apa yang menjadi tujuan tidak tercapai, sementara sudah mengeluarkan biaya yang sangat besar. Beberapa caleg yang depresi mengalami gangguan jiwa hingga dirawat di RSJ setempat, bahkan ada yang bunuh diri karena malu. Depresi karena tidak terpilih, banyak caleg yang menarik kembali uang atau barang yang di berikan pada saat kampanye. Hal ini sungguh membuktikan bahwa calon pemimpin kita kurang memiliki kesadaran berpolitik. Sebenarnya kerendahan kesadaran berpolitik yang di alami para calon pemimpin kita ini, di alami oleh kita pula, masyarakat Indonesia sebagai pemilih. Menurut kalkulasi Quick Count terakhir, terdata 40 % dari warga Jakarta memilih untuk menjadi golput, jumlah ini meningkat dari pemilu sebelumnya dimana pihak Golput berjumlah 34,5 %. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia juga membutuhkan kesadaran berpolitik yang lebih baik, untuk mendukung jalannya pemerintahan Indonesia yang sedang berkembang. Sepertinya kedua belah pihak di negeri kita ini, baik yang memimpin, maupun yang di pimpin harus saling mendukung dan bersikap solider dan adil. Pemimpin tidak ada untuk menjadi ditaktor, dan masyarakat juga bukan ada untuk menjadi golput dan korban dari pemerintahan. Jangan hanya menuntut kinerja pemerintahan yang baik, namun juga menjadi golput. Keduanya harus berjalan seimbang demi kemajuan bangsa Indonesia. Mau Indonesia maju? Dukung melalui sikap dan tindakan, bukan hanya omong kosong.

Jumat, 03 April 2009

Pertanggung – Jawaban Para Caleg Kita.

Semakin dekat tanggal 09 April 2009, rasanya rakyat Indonesia semakin gerah. Coba saja kita lihat dan amati, dengan banyaknya calon legislatif yang tergabung dalam partai yang rasanya bertambah setiap pemilu di adakan, semua lapisan masyarakat tertarik dengan fenomena ini. Baik si calon wakil masyarakat dan semua masyarakat Indonesia. Semua calon wakil masyarakat dengan semangat menggembar – gemborkan janji dan slogan yang mereka pakai untuk menarik perhatian dan dukungan masyarakat. Mengadakan event – event yang menarik untuk masyarakat setempat, dimulai dengan kampanye memakai panggung lengkap dengan artis dangdut nya, pembagian sembako gratis, pembagian kaus berlambang parpol masing – masing, penempelan poster di angkutan umum, penggunaan umbul – umbul di berbagai tempat, sampai yang paling menarik, pembagian flyer dan brosur dengan menggunakan helicopter. Sedangkan kita sebagai masyarakat, belum bisa menentukan kepada siapa kita mempercayakan aspirasi dan pilihan kita. Jangankan menentukan orangnya, bagaimana cara memilih mereka saja kita masih bingung.
Seakan belum cukup, sepertinya masih sangat banyak permasalahan yang harus kita hadapi di tanah air kita ini. Masalah kemiskinan, kurangnya lapangan pekerjaan, dan musibah alam harusnya mendapat perhatian khusus dari masyarakat apalagi para wakil masyarakat dan pemerintah. Lihat saja kasus yang baru - baru ini terjadi, musibah alam yang kita kenal sebagai tragedi Situ Gintung, apakah para caleg dan pihak pemerintah yang katanya memperjuangkan nasib rakyat kecil membantu mereka saat musibah ini terjadi?? Sudahkah mereka memperlihatkan dan mewujudkan kepedulian mereka? Seharusnya hal ini sudah menjadi perhatian para calon pemimpin sebelum tragedy ini terjadi dan merenggut banyak jiwa masyarakat yang tidak tahu apa2. Kemana sajakah anggaran Negara yang sudah dipersiapkan untuk membangun negeri kita ini? Waduk Situ Gintung tidak seharusnya merenggut banyak jiwa apabila waduk yang dibangun pada tahun 1938 tersebut dirawat dengan baik oleh pemerintah. Tapi kemana dana yang ada untuk pembangunan tersebut? Kalau sudah begini, tragedy sudah terjadi, jiwa – jiwa yang tidak tahu apa – apa sudah pergi dan meninggalkan banyak duka, siapa yang patut bertanggung jawab? Apakah para calon wakil masyarakat mampu menampung aspirasi serta bertanggung jawab akan nasib masyarakat Indonesia terutama orang kecil?
Masalah korupsi di Negara kita ini sepertinya menjadi duri dalam daging. Bagaimana tidak? Sementara masyarakat dan orang kecil menderita karena kelaparan, tidur di emperan jalan, menunggu aspirasi mereka tersalurkan, pihak yang berwenang malah menikmati uang hak rakyat. Dana yang seharusnya bias membantu masalah pendidikan atau kemiskinan warga, malah menjadi hak milik orang lain yang tentu tidak dapat mempertanggung - jawabkan hal tersebut. Apakah sebagai wakil masyarakat nantinya para caleg kita ini dapat mempertanggung – jawabkan semua janjinya yang sudah di umbar di depan mata kita? Saat ini kita membutuhkan seorang pemimpin yang bukan hanya bias mengumbar janji, gembar – gembor slogan dan berharap mendapatkan posisi dan jabatan yang tinggi di mata masyarakat, kita membutuhkan pemimpin yang mampu mempertanggung – jawabkan semua janji yang telah di ucapkan. Kita membutuhkan pemimpin yang mau memperjuangkan nasib masyarakat yang di pimpinnya, yang tidak terlena dengan fasilitas yang mereka dapatkan dari jabatan mereka. Kita butuh pemimpin yang cerdas dan peduli, yang bukan hanya ada atau “ exist ” saat kampanye saat ini saja, namun mampu berjuang untuk kita dan negeri Indonesia kita ini apabila terpilih, sampai akhir masa jabatannya. Kita butuh seorang pemimpin yang jujur, yang rela membela kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, yang tidak memanfaatkan jabatan semata.
Dimana kah pemimpin kita itu? Bisakah kita membedakan mana pemimpin yang bisa kita percaya? Tanggal penentuan semakin dekat, masa depan Indonesia ada di tangan kita masing – masing, gunakan hak pilih kita sebaik – baik nya, jeli memilih akan membawa Indonesia kearah yang lebih baik.

Rabu, 01 April 2009

tugas..tugas..tugas..huffhhh..

haaaaahhh.. tugas numpuuuk!!! puyeng2.. x_x
duh dosen2ku yang baik,, ngasih tugasnya di pending dikit napa?? pak silih baca khannn?? ayolah,,artikelnya ga usah aj,,hehe.. kasih A buat 1 kelas PR 11-6C lah pak..beramal itu baeee,, hehe.. adoh2..daku stressss..

guyss,, liat tragedi situ gintung kemaren kan??
kita jd di ingetin bgt bwt bersyukur dengan apa yg kt punya ya..lagi2 topiknya bersyukur.. tapi ya emang kita mst brsykr.. coba dibayangin.. mereka yang tinggal di situ gintung, mana pernah sih mereka mikir akan kena musibah kaya kemaren?? kehilangan rumah, harta benda,, bahkan sanak saudara,, yang mungkin di siang harinya mereka masih maen2..masih ngumpul2, tau2 yang selamet langsung kehilangan 1 - 6 anggota keluarga nya.. ada bapak2 yang kerja di luar kota, begitu pulang dia kehilangn 4 anak, 1 istri plus 1 ade ipar..bisa kebayang ga sih gmn sakitnya mereka?? mumpung Tuhan masih ijinin kita untuk hidup berlimpah dan berkecukupan, syukurin n nikmatin bnr2 yahhh.. kita ga pernah tau kapan Tuhan mau ambil hidup kita..hidup orang2 yang kita sayang.. Dia yang mmberi, Dia juga yang akan ambil.. jangan sampe ada penyesalan di hidup kita karena ngerasa belum mmberikan yang terbaik buat orang2 di sekeliling kita..siapa ya yang harus disalahin dalam tragedi ini??

buat yang niat share ttg apa aja,tolong diposting aja ya comment nya,, GBU..